A Moment to Remember

Kamu hanya perlu kesederhanaan, untuk merasakan hal yang mewah.

image

Untuk Febrian dan Rafka.
.
Blitar, barangkali setelah ini aku akan memandang kota itu dengan sedikit berbeda. Tidak perlu merasa heran jika tiba-tiba aku tersenyum kala mendengar kota itu disebut.

Kisahku tertinggal di sana.

.
Sebenarnya ini hanya cerita yang sangat sederhana.

Aku bersama kak Jauh dan kak Eet mulanya, saat memutuskan untuk ikut pergi ke Malang, tidak ada niatan kami untuk mampir ke Blitar.

Yea, sebut saja keadaan yang berlatar urusan finansial membuat kami tertahan tinggal di Blitar, menumpang hidup dua hari di rumah kak Jauh. Sebelum pulang ke Bogor
.

Di kota ini, aku baru tahu kalau sepeda masih menjadi salah satu transportasi utama untuk warganya. Bukan hanya untuk olahraga semata.
.
Di kota ini, aku menemukan keramahan yang mulai sulit kutemukan di kotaku sendiri.
.
Di kota ini, aku bertemu Febrian yang sedang duduk di bawah pohon, melihat teman-temannya yang bermain bola pada jam istirahat.
Melihatnya, seperti sebuah keharusan untuk aku menyapa. Bertanya, sedikit basa-basi.
Menyenangkan melihat ia tersenyum malu-malu saat kutanyai.

“Nama kamu siapa?”
Febrian hanya tersenyum malu.
“Namanya Febrian, Mbak.” Itu bukan Febrian yang jawab, tapi temannya yang sedang bermain bola, tapi terang-terangan memerhatikan kami.
“Lagi istirahat?”
Febrian kembali menjawab dengan hanya anggukan malu.

Aku teringat pada boneka jari pemberian FLAC Jember untuk FLAC Bogor. Kutinggalkan Febrian dan kembali ke rumah kak Jauh, tumpangan sementara selama aku di Blitar. Terlintas saja, aku ingin berbagi dongeng dengan mereka.

Bersama kak Eet, ketua FLAC Bogor yang imut, aku kembali ke tempat Febrian sebelumnya duduk berteduh. Febrian sudah tidak di tempat, digantikan seorang anak seumurannya.

Semuanya terjadi begitu saja. Kami berkerumun di tengah lapangan, menjanjikan sebuah dongeng yang disambut antusias oleh anak-anak SDN 01 Pakitan.

Padahal, itu adalah jam istirahat mereka. Mereka bebas untuk tidak mengacuhkan kedatangan kami, memilih bermain dengan permainannya. Atau lebih melilih jajan di kantin. Namun rupanya, sebagian besar menyambut hangat niat kami yang bahkan belum izin pada pihak sekolah (yang selanjutnya, saat di tengah dongeng aku minta izin, rupanya guru di sana malah mengira kami mau jualan boneka).

Barangkali karena kami orang-orang baru yang mereka temui. Atau mungkin karena belum ada orang yang pernah mendongeng pada mereka. Atau barangkali, karena properti boneka kecil imut yang kami bawa.

Aku tidak mengerti apa yang bisa membuat mereka seantusias itu.
Yang pasti, sambutan hangat yang mereka beri, memberiku kesan yang tidak bisa aku lupa.

Dongeng yang kami sampaikan sama sekali tidak sempurna. Cara menyampaikan yang khas amatiran. Mereka seakan tidak peduli itu, tetap mendengar dengan sekali-dua kali menyahut, menjawab pertanyaan, dan terkadang mengganggu dengan memegang-megang boneka mungil yang kami beri nama Bunga, Rio dan (Ibu) Jenar.

Kubilang ini hanyalah kisah sederhana. Namun melihat senyum tulus dan tawa menghibur dari anak-anak itu dapat membuatku merasakan hal yang mewah.

Untuk Febrian, Rafka dan beberapa anak lain yang mengikuti kami pulang hingga ke rumah kak Jauh (padahal masih jam sekolah). Aku kangen kalian.

Tetaplah seramah itu pada orang-orang baru yang kalian temui. Sebarkan senyum dan tawa polos itu, agar tidak hanya aku saja yang merasa bahagia.

image

Diajak fotonya semangat banget.

image

Anak-anak mulai kumpul untuk mendengar dongeng🙂

image

Febrian - Rafka -Aku

Jurnal 8 : Bye, Juni

Hujan Bulan Juni

oleh Sapardi Djoko Damono


Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Bye, Juni 2015. Juli telah menyapa dan… life still goes on.

Btw aku lagi penasaran sama novel Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono.

Sepanjang aku baca di internet, puisi karya beliau sederhana dan indah. Hujan Bulan Juni adalah favoritku.

Mungkin karena aku terkesan akan maknanya… atau mungkin karena Juni bulan kesukaanku.

Siapa tau?

.

.

.

.

Maka biarkan aku seperti Hujan Bulan Juni; yang merahasiakan, mencoba untuk menghapus dan membiarkan tidak tersampaikan rasa yang ia miliki.

Jurnal 7 : Curhat Malam

Assalamualaikum, ini adalah baper time.

Nunggu bapak nggak bobok-bobok juga, yaudah aku tjurhat ajah.

Hari ini aku jagain bapak di RS. Seharusnya sih besok. Tapi pas rapat panitia osjur siang tadi, Mama telpon dan bilang aku aja yang jagain. It’s oke.

Maka dari itu, sehabis ashar aku izin pulang, padahal rapat belum beres. Sebelum ke RS, aku ke gramed buat cariin kado temenku. Uhuy, besok sahabat baik aku ultah.

Nah, maghrib baru deh sampai RS. Alhamdulillah, bahagia rasanya lihat bapak yang sudah dilepas selang oksigennya, terus liat bekas tempat makanannya yang ludes, habis makanannya. Padahal waktu hari sabtu, jangankan setengahnya, Bapak cuma mau makan sesendok. Itu bikin aku sedih dua kali lipat karena aku gak suka liat makanan gak habis.

Poin penting di sini sebenernya bukan itu, sih. Ini tentang Mama dan jagain Bapak.

Setiap Mama emang selalu super. Mamaku juga, meskipun Mama kalau cerewetnya udah keluar, selalu bikin aku pengen tutup kuping.

Untuk pertama kalinya aku nginep jagain Bapak. Aku kira bakal mulus aja karena ada perawat. Tapi ternyata, perawat yang sering bulak-balik malah bikin aku ngerasa gak bebas. Yah, namanya juga akhwat. Apalagi aku belum ganti baju, mandi, mana lagi datang siklusnya cewek dan segala macem -_- Rasanya pengen pulang melulu. Belum lagi, harus siap sedia bantuin bapak setiap Bapak mau ini dan itu. Harus siap 86! Payahnya, baru segini ajaaku udah pengen ngeluh.

Beda banget sama Mama, dia yang rawat Bapak dari sebelum dirawat. Mikirin anaknya juga. Sampai Bapak masuk rumah sakit, Mama yang jagain siang malem di RS karnea anaknya jauh, kerja dan kuliah. Sengaja nggak ngabarin anaknya yang lagi UAS dari awal. Mana RS sama rumah jauh, mana naik angkot. Terus… tuhkan baper. Tuhkan nangis.

Udahan ah, bapak belum bobok, malu kalau ketauan anaknya cepet baper kalau masalah kayak gini, malu kalau ketauan nangis.

Satu hal, setiap orang tua itu superrr dengan cara mereka masing-masing. Nggak perlu ngarepin ucapan verbal tentang kasih sayang dari mereka. Sebab sudah seharusnya kamu bisa rasain sendiri, setiap hal yang mereka lakuin untuk kamu itu bentuk paling indah dari yang namanya kasih sayang.

Ana uhibukum fillah *ciiee

Udahan curhatnya. Maap gak penting.

.

.

.

.

Malam ke-13 Ramadhan

Vanda Utama 5, RS Karya Bhakti Pertiwi

Salam hangat (dan baper) dari Rachima Sofiani, anak Bapak Pipin dan Mama Yoyoh.

Jurnal 5 : Simple Thing

Ada anak perempuan yang ganggu Mamanya sholat tarawih berjamaah, sampai naik-naik pundak waktu sujud. Selesai dua rakaat pertama, Mamanya manggil dan kasih tau dia dengan cara yang super halus.

Anak perempuan tadi nurut, dan selalu mengulang kalimat yang sama setiap Mamanya selesai dua rakaat; “Mama, tadi aku nggak gangguin Mama sholat.” Begitu terus yang dia ucap sampai sholat selesai.

Mamanya jawab, “Iya, Nak. Kamu anak baik.” Nyodorin tangannya, anak itu salim. Mamanya balik salim ke tangan anaknya. Terus peluk ciumin muka anaknya.

.

.

.

.

.

Dan aku nangis di tempat cuma gara-gara liat hal kayak gitu :’

Sentul, Malam ke-9 Ramadhan 1436H

Jurnal 4 : Ramadhan ke-20 (Day 1)

Assalamualaikum.

Marhaban Ya Ramadhan…

Selamat datang, Bulan penuh berkah~~

Alhamdulillah tahun ini dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Yeay.

Udah jadi tradisi, bulan puasa alias bulan Ramadhan ini bulannya saling maaf-maafan. Karena nggak mau kehilangan moment, makadari itu Rachima Sofiani mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala khilaf yang telah diperbuat, baik yang disengaja ataupun nggak.

Maafin Rachima dua puluh tahun ini pastinya nggak pernah luput dari dosa dan salah. Btw, iya lho, gue udah dua puluh tahun he-he

Duapuluh tahun lebih dua pekan sih, tepatnya. Udah (mulai) dewasa, bukan lagi teenager kayak lima belas hari yang lalu. Udah gak cocok minum HiLo Teen. Udah bukan masanya baca novel Teenlit. Udah kepala dua. Catet, ke-pa-la du-a.

Udah dulu bahas duapulutahun nya.

Ramadhan hari pertama ini beda dari yang sebelumnya. Kalau tahun-tahun kemarin gue masih bisa nikmatin masakan Mama waktu sahur pertama, kali ini gue harus ngerasa puas walau cuma sahur dengan abon sapi buatan pabrik dan nasi yang dimasak via mejikom. Oh iya, ada juga tambahan dua tusuk sate-ayam-tanpa-bumbu-kacang sisa semalem. Yah namanya juga anak kosan. Hal-hal kecil kayak gini aja harus disyukuri (ciye). Alhamdu? lillaaah~

Sekarang jam empat sore, sepagian tadi gue habiskan buat ngerjain tugas-tugas yang belum kelar. Nampaknya, pekan tenang memang cuma wacana buat orang-orang yang kemarin-kemarin suka nunda tugas macem gue. Terus siangnya gue pake buat bobok siang dan baca novel. Terus sorenya curhat kayak begini. (Ini waktu curhat sore)

He-he

Dan sekarang sudah malam (jadi gue nulis jurnal ini ditunda gitu, deh). Nggak lupa, makasih banyak buat Mamanya Neta udah menjadi sponsor buka puasa pertama untuk Rachima dan Chairin! Jadi pulang dari rumah Neta tadi, Chairin bawa tiga daging rendang plus es buah~~ rezeki emang nggak kemana. Alhamdulillah~

Apadeh, jadi kayak laporan harian gak penting sih.

Pokoknya harus semangat terus untuk satu bulan ke depan.

Semoga Ramadhan kali ini berkah untuk kita semua, aamiin~

Ah, iya! Jangan lupa targer-target bulan Ramadhan nyaaa~~

Jurnal 3 : Tanyakan, Katakan

Mari tanyakan.

Tanyakan pada dirimu, masihkah prinsip itu kau pegang?

Tentang memperbaiki diri, ingat? Lalu kemana usahamu?

Hanya begini saja sudah mengeluh. Hanya begitu saja sudah mau menyerah. ‘Just do it’. Apa susahnya?

Mereka yang jaauuuuh lebih baik darimu bukan tanpa usaha yang besar. Lalu kau masih saja berharap usahamu yang lebih kecil dari biji jagung itu akan membuatmu lebih baik? Hey, tahu diri.

Baca lebih lanjut